Layaknya burung yang terbang bebas di angkasa, seperti itu inginku tuk bisa menikmati dunia. Bebas dan lepas melakukan sesuatu sesuai inginku. Layaknya pohon yang kokoh berdiri di hutan, seperti itu inginku tuk bisa bertahan. Kokoh dan kuat menjalani kehidupanku. Aku juga ingin seperti ikan yang berenang dan menyelam di birunya lautan, seperti halnya inginku tuk terus berjuang dan tak ingin tenggelam dalam peradaban.
Nyatanya, aku hanyalah
burung kecil dalam sarang mungil yang telah terjatuh dan tak mampu tuk
terbang. Nyatanya, aku hanyalah pohon muda di sebuah lahan yang ditebang bahkan
sebelum aku mengokohkan akarku di dalam tanah. Nyatanya, aku hanyalah ikan kecil
yang telah kehilangan karangnya di luasnya samudera dan terombang-ambing dalam
derasnya arus.
Sebut saja aku orang yang sedang
berputus asa. Sebut saja aku orang yang sedang merendahkan diri sendiri. Sebut
saja aku orang yang sedang meragukan kenikmatan yang aku punya. Nyatanya memang
iya.
Hidup indah yang berada di
bayanganku serasa menguap bersama angin. Hidup yang aku dambakan serasa
menghilang bersamaan dengan waktu yang mengungkapkan kenyataan. Aku sudah
mengerti itu. Nyatanya di sinilah aku. Di ambang keputusasaanku.
Aku bukanlah gadis kuat yang akan
terus melangkah maju setelah diberi ujian oleh-Nya. Bohong jika aku bilang aku
kuat. Bohong jika aku bilang aku tidak menangis. Bohong jika aku terus
tersenyum. Bohong jika aku terus bahagia. Nyatanya di sinilah aku. Di ambang
rasa kuatku.
Aku selalu menyalahkan semua
kejadian yang aku alami. Selalu tidak terima dengan keputusan-Nya mengujiku
dengan cara yang membuatku ingin mati saja. Dan inilah kebodohanku, terpuruk
dalam luka yang sangat dalam dan tak
bisa memaksa diri untuk keluar dari lubang kesedihan.
+++
Bulan Januari 2016, aku ingat sekali
bagaimana Yang Maha Kuasa telah mengatur garis takdir keluarga yang aku cintai.
Aku menyandarkan punggungku di tembok bersamaan dengan tawa yang ku dengar dari
ruang keluarga.
Hari ini, adikku genap berumur 17
tahun. Kami merayakan tasyakuran di rumah sederhana yang kami tinggali. Sekedar
makan dan doa bersama dengan beberapa anak yatim yang diundang.
Waktu itu aku sempat bertanya,
"Mengapa tidak mengadakan pesta seperti teman-temanmu yang lain?"
"Mubazir, kak. Nanti uang yang
Mama sama Papa keluarin banyak. Lebih baik berbagi bersama saja sama anak-anak
yatim piatu. Lebih berkah. Umur tujuh belas nanti aku hanya ingin berkumpul
bersama dengan keluarga kita. Hanya itu," jawabnya.
Gadis yang berulang tahun ini memang
luar biasa. Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum kagum. Di zaman sekarang
ini, banyak sekali anak-anak muda yang ingin pesta mewah di ulang tahun ke
17nya. Namun, adikku dengan mudahnya menolak pesta seperti itu.
Mama dan Papaku memang mendidik kami
untuk berlaku hemat dan bijak. Juga saat diberi rezeki kami dididik untuk
berbagi kepada sesama. Ya, dan kini didikan beliau berhasil. Adikku kini
menerapkan itu.
Acara tasyakuran sudah berakhir 2
jam yang lalu, setelah shalat asyar berjamaah. Kini kami sedang berkumpul
bersama di ruang keluarga setelah berberes dan bersih diri. Membicarakan banyak
hal tentu saja. Aku tersenyum senang. Begitu pula Mama, Papa, dan tentunya sang
empunya acara hari ini, adikku.
"Kakak sekarang semester
berapa?" Papa bertanya padaku.
"Enam, Pa." Sembari
mengangkat ibu jari kananku aku menjawab.
"Kalau begitu, nanti sarjana
pendidikan harus bisa mengajar anak didiknya dengan baik. Apalagi mengajar diri
sendiri untuk menuju jalan Allah. Nanti kakak akan sendirian, Papa sama Mama
hanya bisa melihat dari jauh," ujar Papa. Lalu Papa menyandarkan
punggungnya pada sandaran sofa. "Kakak gak boleh menyerah. Harus kuat,
oke?"
"Oke siap, Papa ganteng!"
Aku melakukan pose hormat bersamaan dengan jawaban tegas dari bibirku. Membuat
tiga pasang mata tertawa melihatku. Ah, aku senang bisa membuat mereka bahagia.
Obrolan hangat kali ini berlanjut
hingga adzan magrib berkumandang. Kami memutuskan untuk shalat berjamaah dan
dilanjut dengan membaca Al-Qur'an bersama di ruang shalat di rumah. Papa pernah
berkata pada kami agar selalu menjaga shalat. Juga agar selalu membaca
Al-Qur'an meskipun hanya saru halaman tiap hari. Mama juga begitu, pasti beliau
akan marah dan kesal jika aku dan adik masih sibuk sendiri dan mengulur waktu
shalat. Subhanallah, aku cinta sekali
dengan keluargaku.
"Kak, sini bentar deh. Mama mau
ngomong," ucap Mama yang sedang duduk di kasur kamarnya.
Aku segera mendekat ke arah Mama dan
memeluk tubuhnya. "Mama cantik mau ngomong apa?"
Elusan Mama di puncak kepalaku
membuatku tersenyum. "Ambilin kotak biru itu dong, kak." Aku bergegas
mengambil dan memberikan benda yang disebutkan Mama.
Tangan Mama membuka kotak itu dan
mengambil sebuah kalung berliontin lingkaran. "Kakak tolong jagain ini
buat Mama ya."
Aku menyerit bingung namun Mama
langsung memakaikannya di leherku. "Kenapa, Ma?"
"Ya, nanti kan sayang kalo
liontin seindah ini tidak dipakai oleh bidadari Mama." Mama menangkup sisi
wajahku dengan kedua tangannya. "Itu hadiah buat kakak yang sudah masuk
semester enam. Nanti kalau sudah waktunya kuliah bikin kakak capek, penat, atau
mungkin kesel dan sedih, kakak pegang aja kalung ini sambil berdoa. Mama juga
bakal berdoa demi kelancaran masa depan kakak."
"Uuhh... Sayang Mama deh."
Aku segera menghanbur ke pelukan Mama dengan mata berkabut.
Ya Allah, jaga keluargaku di dunia dan di akhiratMu
+++
Bulan Februari 2016, aku tak tahu
bagaimana perasaanku. Kabut pekat seakan menutupi seluruh jiwaku. Aku tak
berbahagia. Aku tak memiliki alasan untuk berbahagia.
Tubuhku dihantam kenyataan.
Pikiranku ditimbun bayangan kelam. Kakiku lunglai tak kuat berdiri sendirian.
Tanganku kaku tak mampu berpegangan. Hatiku gaduh terpenuhi riuh kemalangan.
Pagi itu, seminggu setelah tasyakuran
adikku yang berusia 17 tahun, aku berada di rumah sendirian. Aku menolak ajakan
Mama dan Papa menuju ke rumah pamanku. Sederhana, ada sahabat yang datang
berkunjung. Jadilah aku bersama sahabat SMAku berdua di rumah. Adikku ikut
dengan Mama dan Papaku tentunya.
Hingga pukul dua siang, ponselku
berdering. Nomor tak dikenal. Namun aku langsung saja menerima panggilan itu.
Aku ingin lupa saja.
Aku tak ingin mengingatnya.
Aku benci mendengar itu.
"Keluarga anda mengalami kecelakaan dan kini..."
Aku benci mendengar itu.
Tubuhku bergetar hebat. Air mataku
langsung membuncah. Aku ambruk dengan tangisan hebat. Segera Aqilah, sahabatku,
menenangkanku. Ia mengajakku untuk segera menuju ke rumah sakit.
Saat sampai di rumah sakit, aku tak
bisa mengendalikan tangisku. Aku terus berdoa dalam hati dan berucap, Semua
akan baik-baik saja.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
Nafasku tercekat di tenggorokan. Aku tak sadarkan diri setelah mendengar
seorang dokter berucap.
"Mohon maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan ketiga korban. Kami berbela sungkawa atas meninggalnya keluarga
anda."
+++
Bulan Februari 2017, kini aku
berlutut di depan nisan orang-orang yang aku sayangi. Air mataku turun tanpa
permisi. Dadaku masih sesak menyadari kenyataan ini. Aku sendiri.
Meskipun dulu Papa pernah berkata
bahwa aku harus kuat, nyatanya aku tidak bisa. Meskipun dulu Mama pernah
berkata jika aku lelas aku bisa menggenggam liontinnya dan berdoa, nyatanya aku
tetap tidak bisa. Mengingat harapan adikku yang ingin selalu bersama satu
keluarga semakin membuatku tak bisa bergerak. Aku tertahan dalam kesedihan.
Doa aku panjatkan kepada mereka yang
telah berada di alam sana. Sebuah kecupan aku berikan di masing-masing nisan
Mama, Papa, dan adikku. Berjalan menuju luar area pemakaman dengan perasaan
yang masih sama dengan satu tahun lalu.
Aqilah menungguku di dalam mobilnya.
Lalu tersenyum padaku saat aku masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Sudah?" tanyanya yang kujawab dengan jawaban iya.
"Allah tidak akan membukakan
hati kamu jika kamu tidak bisa ikhlas, Ra."
Aku meremas tanganku di atas bawahan
gamis yang aku kenakan. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, La. Kamu
tidak tahu rasanya ditinggalkan oleh ketiga orang yang kamu cintai sekaligus.
Kamu tidak mengerti, La!" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku. Lalu air
mataku kembali membasahi kedua pipiku.
Mobil yang dikemudikan Aqilah masih
terus melaju dan aku menundukkan wajahku seraya menutupnya dengan kedua telapak
tanganku. Entah aku dibawa kemana oleh sahabatku ini. Namun kemudian aku merasa
bahuku ditepuk.
Pantai. Aqilah membawaku ke pantai.
Ia lalu menarikku untuk turun dan mengikutinya mendekati bibir pantai.
"Lautan itu luas sekali, Ra.
Kamu tidak bisa berdiam diri dalam perahumu yang terhenti di tengah lautan.
Kamu perlu melanjutkan perjalan menuju tujuanmu," ujarnya.
Aku mengedarkan pandanganku di
birunya lautan. Semilir angin laut membelai wajahku dan membuat hijab yang aku
kenakan sedikit terbang ke belakang. Aqilah benar, pikirku.
"Hatimu itu masih penuh dengan
kebencian yang bahkan tidak memiliki kepastian. Kamu akan tetap terpuruk
semakin dalam dan kelam," lanjut Aqilah yang kini memandang lautan.
"Aku ini egois ya?"
tanyaku dengan senyum miris. "Egois karena memikirkan diriku sendiri yang
sedang bersedih. Padahal aku tidak tahu jika mereka di sana pasti akan sedih
melihatku seperti ini. Iya, kan?"
Aqilah diam dan menutup matanya.
"Yang kamu butuhkan hanyalah kesadaran. Kamu masih memiliki anggota
keluargamu yang lain. Kamu masih memiliki teman dan sahabatmu. Bahkan mungkin
kamu sedang tidak sadar, bahawa Allah masih bersamamu."
"Terimakasih." Aku
tersenyum sembari membuka mata.
Mata di kepalaku juga mata di
hatiku.
Saat aku tersadar dari mimpi
kelamku, aku sudah sepatutnya meminta maaf kepada-Nya. Meminta maaf atas aku
yang selalu menyalahkan setiap keadaan yang terjadi. Meminta maaf atas aku yang
selalu mengaduh kepada-Nya atas ujian yang diberikan kepadaku.
Aku memang seekor burung kecil
dengan sarang yang terjatuh dan tak mampu tuk terbang. Namun aku masih berusaha
untuk berjalan dan menemukan cara bagaimana tuk bertahan.
Aku memang sebuah pohon muda yang
telah ditebang. Namun aku masih bisa tersenyum sebab batangku masih bisa
dimanfaatkan.
Aku memang seekor ikan kecil yang
telah kehilangan karangnya dan terombang-ambing di lautan. Namun aku masih bisa
menggerakkan sirip dan ekorku tuk berenang mengikuti arus dan akan menemukan
karang baruku tuk hidup dan berjuang.
Segala sesuatu telah tersusun indah
oleh Yang Maha Kuasa. Ya, kini aku belajar untuk mengikhlaskan dan berlapang
dada menerima setiap ujian. Belajar untuk mengikuti setiap alus dari skenario
yang Allah ciptakan.
+++
Oleh: Alifia Nihayatul Safitri
Bagikan Artikel ini

0 komentar:
Posting Komentar