Don't miss

Rabu, 13 Januari 2021

KERINDUAN HATI, Oleh: Nurul Azizah


By on Rabu, Januari 13, 2021

 


Kau dengar?

Suara rintihan itu.

Berbisik bahwa hati ini telah lelah.

Silih berganti badai melanda kapal hati ini.

Oh tidak. Apa ini?

Bolehkah aku terjun?

Aku sudah tak tahan.

Bolehkah aku pergi dari semua sandiwara ini?

Kemudian aku jatuh.

Jatuh lebih dalam.

Ku terbangun.

Hanya ada kegelapan.

Di mana ini? Tempat gelap macam apa ini.

Aku sendiri.

Aku sendiri.

Dalam kegelapan.

Aku menghujat diri sendiri.

Aku menghujat semua.

Semua yang pernah aku lihat, dengar, atau apapun itu.

Aku menyerah.

Di sini hanya ada kegelapan

Apa maksud semua ini?

Aku merintih.

Aku benci.

Aku benci karena aku ditinggal sendiri, aku sendirian dalam kegelapan, aku kehilangan arah.

Siapa yang aku punya?

Hanya diriku.

Hanya diriku seorang.

Bolehkah aku menyerah? Aku tak sanggup. Di sini kosong, hanya ada kegelapan.

Seketika muncullah cahaya.

Aku berlari mengejarnya

Layaknya seorang di padang pasir yang kehausan dan bahagia mendengar suara percikan air.

Aku terus mengejar.

Inilah yang aku butuhkan.

Aku menemukan secercah harapan baru.

Aku ingin hidup dalam cahaya itu.

Selangkah aku memasuki ruang yang penuh cahaya, kemudian mataku terbuka.

Terasa berat memang membuka mata ini.

Oh ternyata mataku lembab.

Apa aku baru saja menangis?.

Kulihat sekeliling.

Lemari, meja. Hal yang biasa.

Namun mataku tertuju pada satu tulisan di dinding itu.

Apa ini?

"Tanda cinta Allah, Allah biarkan hatinya hancur berkali-kali hingga ia rasa tak ada lagi harapan di dunia ini. Dan itu akan membuatnya berharap hanya kepada Allah".

Allah. Inikah jawabannya?

Apakah hati ini masih bergetar ketika disebut nama-Nya?

Apa kegelapan tadi adalah hatiku?

Apa karena nama-Nya sudah tak lagi di sana?

Hingga aku kehilangan arah.

Ya Allah... Engkaukah jawaban dari semua keluh kesah ini?

Aku salah.

Aku tidak sendiri.

Kini kuhadirkan lagi nama-Nya dalam hatiku.

Aku menemukan harapan baru.

Kau tau kenapa?

Karena Sang Pemilik hati ini telah menegur si hati untuk mendekat pada Pemiliknya. Ia sedang Rindu pada hati ini.

Teguran untuk semua keluh kesah ini. Tetesan air mata.

Hingga akhirnya kusadari bahwa aku tak sendiri.

Sang Pemilik hati selalu bersamaku.

Hanya saja aku sempat lupa bahwa Dia ada.

Karena tertutupi oleh pedihnya kehidupan dunia. Namun, karena betapa pedihnya itu, aku menemukan satu jawaban.

Bahwa aku punya tempat kembali.

Hamba macam apa aku ini.

Dia mencintaiku, tau apa yang aku butuhkan, Ia berikan aku cinta yang bahkan lebih dari cinta seorang ibu pada anaknya.

Ia memberi tanpa kupinta.

Apa Ia mengharap balasan?

Tidak. Jika aku melupakan-Nya apa Ia kekurangan?

Tidak. Aku yang membutuhkan-Nya.

Ternyata dalam hati nuraniku masih ada cahaya itu.

Cahaya untuk sekedar menyadari Sang Pemilik hati sedang mengetuk pintunya.

Kegelapan hatiku disebabkan karena tundukku pada dunia yang fana ini. Aku lupa siapa Pemiliknya.

Kini bahagia melandaku.

Allah.

Allah.

Allah.

Ingin terus kusebut nama-Nya.

Aku lupa akan semua masalah dunia ini.

Semua terasa ringan.

Saat aku tau bahwa aku sedang bersama Pemilik dunia ini.

Kuadukan apa yang telah dunia lakukan padaku.

Aku serahkan semua perkara pada-Nya.

Aku kini punya tempat mengadu.

Betapa bahagianya aku.

Kini dunia semakin baik padaku.

Dulu seorang teman lama lewat dan memalingkan wajahnya dariku, aku kemudian marah dalam hati, kusimpan rasa marah itu, hingga saatnya ia lakukan itu lagi. Tapi kini kulemparkan senyum padanya.

Ternyata ini tidak berat.

Ini semua mudah.

Allah ingin aku membalas dengan senyum. Allah suka itu. Dan aku bahagia.

Tak ada beban lagi.

Dunia memang keras.

Hanya orang-orang pilihan yang dapat menaklukkannya.

Dunia memperlakukan setiap orang sama.

Yang beda hanya perlakuan kita padanya.

Jika Allah bersama kita, tidak perlu khawatir, tidak perlu pula bersedih.

Kini saat dunia mulai jahat lagi padaku, langsung kuadukan ia pada Tuhanku.

Dalam sujudku, mulai kubisikkan pada Bumi untuk menyampaikan pesanku pada Tuhanku.

Waktu berlalu, sedikit demi sedikit kutaklukkan tantangan dunia, tantangan yang sesungguhnya terus mengajarkan aku arti hidup ini.

Hingga aku hidup seperti tak punya masalah.

Masalahku hanya satu.

Ketika Allah tak lagi di hatiku.

Ketika itu kegelapan mulai melanda hatiku kembali.

Tapi tenang, aku meminta kepada Allah untuk menetapkan hatiku tak berpaling dari-Nya.

Hati ini akan terus rindu pada-Nya.

In sya Allah....



Bagikan Artikel ini


.

0 komentar:

Posting Komentar