Kau
dengar?
Suara
rintihan itu.
Berbisik
bahwa hati ini telah lelah.
Silih
berganti badai melanda kapal hati ini.
Oh
tidak. Apa ini?
Bolehkah
aku terjun?
Aku
sudah tak tahan.
Bolehkah
aku pergi dari semua sandiwara ini?
Kemudian
aku jatuh.
Jatuh
lebih dalam.
Ku
terbangun.
Hanya
ada kegelapan.
Di
mana ini? Tempat gelap macam apa ini.
Aku
sendiri.
Aku
sendiri.
Dalam
kegelapan.
Aku
menghujat diri sendiri.
Aku
menghujat semua.
Semua
yang pernah aku lihat, dengar, atau apapun itu.
Aku
menyerah.
Di
sini hanya ada kegelapan
Apa
maksud semua ini?
Aku
merintih.
Aku
benci.
Aku
benci karena aku ditinggal sendiri, aku sendirian dalam kegelapan, aku
kehilangan arah.
Siapa
yang aku punya?
Hanya
diriku.
Hanya
diriku seorang.
Bolehkah
aku menyerah? Aku tak sanggup. Di sini kosong, hanya ada kegelapan.
Seketika
muncullah cahaya.
Aku
berlari mengejarnya
Layaknya
seorang di padang pasir yang kehausan dan bahagia mendengar suara percikan air.
Aku
terus mengejar.
Inilah
yang aku butuhkan.
Aku
menemukan secercah harapan baru.
Aku
ingin hidup dalam cahaya itu.
Selangkah
aku memasuki ruang yang penuh cahaya, kemudian mataku terbuka.
Terasa
berat memang membuka mata ini.
Oh
ternyata mataku lembab.
Apa
aku baru saja menangis?.
Kulihat
sekeliling.
Lemari,
meja. Hal yang biasa.
Namun
mataku tertuju pada satu tulisan di dinding itu.
Apa
ini?
"Tanda
cinta Allah, Allah biarkan hatinya hancur berkali-kali hingga ia rasa tak ada
lagi harapan di dunia ini. Dan itu akan membuatnya berharap hanya kepada
Allah".
Allah.
Inikah jawabannya?
Apakah
hati ini masih bergetar ketika disebut nama-Nya?
Apa
kegelapan tadi adalah hatiku?
Apa
karena nama-Nya sudah tak lagi di sana?
Hingga
aku kehilangan arah.
Ya
Allah... Engkaukah jawaban dari semua keluh kesah ini?
Aku
salah.
Aku
tidak sendiri.
Kini
kuhadirkan lagi nama-Nya dalam hatiku.
Aku
menemukan harapan baru.
Kau
tau kenapa?
Karena
Sang Pemilik hati ini telah menegur si hati untuk mendekat pada Pemiliknya. Ia
sedang Rindu pada hati ini.
Teguran
untuk semua keluh kesah ini. Tetesan air mata.
Hingga
akhirnya kusadari bahwa aku tak sendiri.
Sang
Pemilik hati selalu bersamaku.
Hanya
saja aku sempat lupa bahwa Dia ada.
Karena
tertutupi oleh pedihnya kehidupan dunia. Namun, karena betapa pedihnya itu, aku
menemukan satu jawaban.
Bahwa
aku punya tempat kembali.
Hamba
macam apa aku ini.
Dia
mencintaiku, tau apa yang aku butuhkan, Ia berikan aku cinta yang bahkan lebih
dari cinta seorang ibu pada anaknya.
Ia
memberi tanpa kupinta.
Apa
Ia mengharap balasan?
Tidak.
Jika aku melupakan-Nya apa Ia kekurangan?
Tidak.
Aku yang membutuhkan-Nya.
Ternyata
dalam hati nuraniku masih ada cahaya itu.
Cahaya
untuk sekedar menyadari Sang Pemilik hati sedang mengetuk pintunya.
Kegelapan
hatiku disebabkan karena tundukku pada dunia yang fana ini. Aku lupa siapa
Pemiliknya.
Kini
bahagia melandaku.
Allah.
Allah.
Allah.
Ingin
terus kusebut nama-Nya.
Aku
lupa akan semua masalah dunia ini.
Semua
terasa ringan.
Saat
aku tau bahwa aku sedang bersama Pemilik dunia ini.
Kuadukan
apa yang telah dunia lakukan padaku.
Aku
serahkan semua perkara pada-Nya.
Aku
kini punya tempat mengadu.
Betapa
bahagianya aku.
Kini
dunia semakin baik padaku.
Dulu
seorang teman lama lewat dan memalingkan wajahnya dariku, aku kemudian marah
dalam hati, kusimpan rasa marah itu, hingga saatnya ia lakukan itu lagi. Tapi
kini kulemparkan senyum padanya.
Ternyata
ini tidak berat.
Ini
semua mudah.
Allah
ingin aku membalas dengan senyum. Allah suka itu. Dan aku bahagia.
Tak
ada beban lagi.
Dunia
memang keras.
Hanya
orang-orang pilihan yang dapat menaklukkannya.
Dunia
memperlakukan setiap orang sama.
Yang
beda hanya perlakuan kita padanya.
Jika
Allah bersama kita, tidak perlu khawatir, tidak perlu pula bersedih.
Kini
saat dunia mulai jahat lagi padaku, langsung kuadukan ia pada Tuhanku.
Dalam
sujudku, mulai kubisikkan pada Bumi untuk menyampaikan pesanku pada Tuhanku.
Waktu
berlalu, sedikit demi sedikit kutaklukkan tantangan dunia, tantangan yang
sesungguhnya terus mengajarkan aku arti hidup ini.
Hingga
aku hidup seperti tak punya masalah.
Masalahku
hanya satu.
Ketika
Allah tak lagi di hatiku.
Ketika
itu kegelapan mulai melanda hatiku kembali.
Tapi
tenang, aku meminta kepada Allah untuk menetapkan hatiku tak berpaling
dari-Nya.
Hati
ini akan terus rindu pada-Nya.
In
sya Allah....

0 komentar:
Posting Komentar